Membuangsisa makanan termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta, sehingga Allah membencinya. Membuang sisa makanan berarti menjadi teman setan pula. Sebagaimana Allah berfirman: وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ " Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Pasalnya masrakat Indonesia masih sering menyisakan makanan bekasnya di piring. Entah itu karena kekenyangan atau tidak berminat lagi memakannya. Namun alhasil makanan itu terbuang sia-sia.
Takjarang kita sering menyisakan makanan tanpa menyadari jika di luar sana masih banyak orang kelaparan. Dengan gerakan ini, WFP mencontohkan lukisan di sisi piring yang menggambarkan orang-orang kelaparan. Hal ini agar, setiap menyisakan makanan, kamu bisa melihat gambar orang berebut makanan yang tidak kamu habiskan itu.
Mungkinbisa dikatakan jijik jika menjilatnya di tengah-tengah makan, kemudian di sini nampak bekas air liurnya. Namun kalau menjilatnya setelah selesai makan atau melihat ada sisa pada piring, maka seperti itu adalah bagian dari yang ia makan. Boleh makan dengan seluruh jari, misal ketika makan nasi dan semacamnya.
Mengambilmakanan menggunakan sendok yang berbeda. Jangan menggunakan sendok yang kamu pakai untuk makan untuk mengambil makanan dari piring-piring di tengah meja. Kalau kamu sampai keliru, orang Vietnam menganggap hal itu sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Baca: Liburan ke Jepang, Ini 5 Hal yang Wajib Dilakukan di Tokyo. Memakai sumpit
Ketikamakan hendaknya menghabiskan makanan kita dan tidak menyisakan makanan di piring, meskipun itu hanya sebutir. Menyisakan makanan dan membuangnya termasuk perbuatan tercela dalam Islam karena hal itu termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta dan nikmat Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah benci terhadap tiga hal, yaitu berita palsu atau gosip, menyia-nyiakan harta atau makanan
Bilaselesai dari makan lalu masih tersisa di pinggir piring sisa-sisanya mereka tidak menghabiskannya. Perbuatan seperti ini menyelisihi perintah Nabi Muhammad ﷺ!" (Syarah Riyadhus Shalihin, III/532) Semoga kita tergolongkan dalam pihak yang menerapkan semua sunnah Nabi Muhammad ﷺ lalu mengajak serta orang lain padanya. Wallahu A'lam Bishawab.
Karenaitulah, jangan menyisakan makanan (baik di piring maupun yang ada di jari). Wassalamu alaikum
Antaralain ada sebuah "ajaran" yang keliru sebagian orang, sehingga kemudian menjadi "tradisi" mereka ketika makan. Yaitu "jangan menghabiskan semua makanan di atas piring, sebagian harus disisakan". Hal itu mereka lakukan supaya ada kesan bahwa mereka bukan orang yang sedang kelaparan atau orang yang benar-benar sangat membutuhkan makanan.
Oleh A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University) Salah satu perbuatan yang dimurkai Allah SWT, adalah seenaknya menyisahkan dan membuang buang makanan dan minuman. Kebiasan menyisahkan air minum di gelas dan botol, atau makanan tersisa di piring, segera hentikan, karena bisa jadi penyebab seretnya rezeki dan terbuangnya
6RVgMBk. Sebelum virus Covid-19 menyerang, saya dan teman-teman kerap mengadakan kegiatan kumpul bersama. Entah itu main ke kafe, camping, atau sekadar ngumpul di kos salah satu teman. Kegiatan ngumpul ini tentu tidak dapat dipisahkan dari aktivitas olah mulut alias mbadog. Seperti ada yang kurang rasanya jika kumpul dan bergosip ria dengan teman, tapi tidak ada sedang ngumpul, saya dan teman-teman cenderung mengutamakan kegiatan mbadog ini. Makanan yang dibadog pun menyesuaikan dengan lokasi dan kondisi keuangan kami. Contohnya, ketika saya dan teman-teman sedang berkumpul di kos daerah Sapen, Yogyakarta. Makanan yang kemungkinan kami pesan adalah camilan legend di daerah itu, apalagi kalau bukan Tahu Walik lagi kalau sedang ngumpul di daerah Krapyak, Yogyakarta. Tempat di mana saya dipesantrenkan sejak MTs hingga kuliah. Di sini saya malah bingung memilih makanan saking banyaknya jajanan yang tersebar di Krapyak. Apa saja ada pokoknya. Tinggal dananya saja yang ada atau tidak~Nah, di antara momen-momen tersebut, sering kali saya dan teman-teman ini hanya lapar mata. Beli makanan kadung banyak, tapi ujung-ujungnya diakhiri dengan kekenyangan. Namun, ada satu peristiwa yang unik di sini. Apabila kami semua sudah kenyang, kok ya ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal sebiji. Mbuh gimana asal-usul dan kronologinya. Akhirnya kami saling menyalahkan dan tunjuk-tunjukkan tentang siapa yang harus menghabiskan makanan makanan yang hanya tersisa satu itu tidak hanya muncul sekali dua kali dalam hidup saya. Sudah berkali-kali saya dan teman-teman mengalami kejadian serupa. Hingga ketika ada makanan tersisa di piring, pasti ada saja yang nyeletuk, “To, lak mesthi tho.”Oleh karena itu, saya ingin menerka-nerka apa alasan sebenarnya di balik kejadian yang unik itu. Apakah ada unsur mistis di dalamnya? Mari kita usut hal-hal yang kemungkinan menjadi alasan menyisakan makanan yang tinggal satu di piring.1 MaluIni adalah salah satu alasan paling klasik yang sering diungkapkan oleh orang. Menjadi orang yang terakhir mengambil makanan akan menyisakan beban tersendiri bagi orang tersebut. Saya sendiri pernah mengalaminya. Saat itu saya sudah kenyang dan terpaksa menghabiskan makanan yang tersisa karena sayang. Salah satu dari teman saya ada yang nyeletuk, “Iseh ngelih yo we?” Yang begini sungguh demi menghindari celetukan yang nyebelin itu, lebih baik saya diam dan membiarkan oknum lain memakan makanan yang tinggal satu tersebut. Bukannya gimana, tapi saya tidak mau dikira masih lapar dan terlihat memelas~2 Mendadak kenyangSaya tidak tahu apakah ada kajian ilmiah di balik fenomena ini, tapi yang jelas saya betul-betul merasakannya. Saya tidak berbohong ketika bilang perut saya sudah kenyang dan ndilalah ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal satu. Kalau dibilang malu sepertinya juga tidak, lantaran saya sering berkumpul dengan orang-orang yang sama pekoknya dengan ada konspirasi tertentu dari elit-elit global yang menyamar jadi cacing-cacing di perut? Saya tidak tahu. Kebetulan juga tidak mau tahu. Entah gimana, yang jelas saya berharap ada kajian mendalam di balik alasan ini.3 Jaga imageJaim atau jaga image mungkin alasan yang dimiliki oleh kaum-kaum introvert. Meski begitu, jika alasan ini terbukti benar, pastinya akan menyiksa cacing-cacing yang kelaparan. Lha gimana? Ngapain juga kalau aslinya lapar, tapi pura-pura tidak lapar. Berjuang tidak sebercanda itu, Sayang~4 Nggak mau ngasahiIni sepertinya alasan yang paling masuk akal dari alasan-alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Menjadi orang terakhir yang mengambil sisa makanan penghabisan selalu diiringi tanggung jawab untuk membersihkan piring. Meski tidak ada aturan tertulis mengenai hal ini, rasanya pekewuh kalau tidak sekalian membersihkan peralatan makan. Oleh karena itu, orang-orang lebih sering memilih untuk tidak mengambil makanan yang tinggal satu itu karena malas ngasahi. Lha piye? Males je, Brou~BACA JUGA 4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus dan tulisan Yafi’ Alfita Mojok merupakan platform User Generated Content UGC untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di diperbarui pada 23 Desember 2020 oleh Intan Ekapratiwi
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Apakah Indonesia merupakan negara miskin atau dalam istilah halusnya negara berkembang ? Tidak, bukan. Indonesia adalah negara kaya jika hal yang dijadikan parameternya adalah "surplus makanan".Menurut banyak sumber, saat ini Indonesia memang tercatat sebagai negara urutan kedua di dunia yang memiliki "surplus makanan". Tiap tahun Indonesia memiliki "surplus makanan" 300 kg per orang atau total sebanyak 1,3 juta tetapi "surplus makanan" di sini bukan berupa kelebihan atau sisa makanan yang bisa dijaadikan sebagai cadangan, tapi merupakan kelebihan makanan yang terbuang begitu saja menjadi sampah makanan food waste. Sangat ironis memang. Di satu sisi masih banyak orang Indonesia yang kekurangan makanan, tapi di sisi lain banyak orang Indonesia yang suka membuang makanan begitu saja. Padahal jika dikonversi, jumlah sampah sisa makanan Indonesia itu ekuivalen dengan 27 triliun rupiah. Jumlah sampah sisa makanan itu juga cukup untuk konsumsi 28 juta penduduk selama satu tahun. Sementara itu di Indonesia sendiri menurut data BPS Biro Pusat Statistik Juli 2020, pada tahun 2020 ini masih ada 26,42 juta jiwa penduduk dengan perbandingan itu, seandainya sebagian penduduk Indonesia yang memiliki "surplus makanan" tidak suka membuang sisa makanannya itu dan kemudian "disubsidikan" kepada penduduk indonesia lainnya yang ada dalam garis kemisikinan, mungkin jumlah penduduk miskin akan berkurang secara saja bukan berarti sisa makanan itu dikumpulkan lalu diberikan kepada penduduk miskin. Akan tetapi orang-orang yang memiliki "surplus makanan" itu bisa menghemat atau bisa mengendalikan cara makan, gaya hidup, atau hal yang tak perlu lainnya berkenanaan dengan makanan sehingga mereka hanya mengkonsumsi pas sesuai kebutuhan makanan sebagian orang suka menyisakan makanannya ? Padahal hal tersebut merupakan perbuatan buruk, tidak terpuji, dan mubazir ? Banyak faktor mengapa sebagian orang suka menyisakan makanannya. Antara lain ada sebuah "ajaran" yang keliru sebagian orang, sehingga kemudian menjadi "tradisi" mereka ketika makan. Yaitu "jangan menghabiskan semua makanan di atas piring, sebagian harus disisakan".Hal itu mereka lakukan supaya ada kesan bahwa mereka bukan orang yang sedang kelaparan atau orang yang benar-benar sangat membutuhkan makanan. Sebab bagi mereka, hanya orang yang sangat kelaparan atau sangat butuh makanan lah yang suka menghabiskan makanan di atas piring. Dalam masyarakat Sunda ada istilah "kokoro manggih mulud", yang menggambarkan orang yang sangat kelaparan atau sangat butuh "kokoro manggih mulud" berkonotasi negatif sebab mengandung makna sebagai orang yang kemaruk atau aji mumpung makan karena baru menemukan makanan seperti itu. Nah orang yang suka menyisakan makanannya tidak mau dimasukkan kategori orang seperti "kokoro manggih mulud". Oleh karenanya demi menjaga "harga diri", mereka "harus" menyisakan sebagian makanannya di atas piring. 1 2 3 4 Lihat Lyfe Selengkapnya
Saya sebagai manusia kadang miris ketika melihat di warung-warung banyak makanan yang tersisa di piring mereka. Ternyata di sekitar kita masih banyak orang yang tega menyia-nyiakan makanan yang merupakan salah satu rejeki titipan dari yang di Atas. Berikut saya paparkan beberapa alasan kenapa kamu tidak boleh menyisakan makanan. Mari kita simak. 1. Menghargai Perjuangan Mereka Apakah kamu tahu bahwa nasi kamu yang kamu makan itu adalah hasil peluh keringat bapak petani yang dari pagi sampai sore bekerja di sawah ? Beliaulah salah satu orang yang berjasa agar kita masih dapat hidup di dunia ini, dengan apa ? ya, dengan tanaman yang mereka tanam untuk kita konsumsi selama ini. Masih maukan kamu menyia-nyiakan sepiring nasi yang terhidang hari ini ? Masih tegakah dirimu menyia-nyiakan hasil kerja keras mereka ? 2. Banyak yang Tidak Bisa Makan Di saat kamu menyisakan dan membuang makananmu, di luar sana entah dimana ada seorang anak yang sedang mengais roti dari tempat sampah hanya untuk mengganjal perut. Disaat kamu bingung hari ini mau makan apa, mereka juga bingung apakah besok masih bisa makan? Dengan kamu menyisakan makanan itu seperti kamu tidak ada rasa empati terhadap mereka-mereka yang masih kurang beruntung. 3. Sumberdaya Kita Terbatas! Pasokan sumberdaya khususnya pangan di dunia ini terus terdesak. Bahkan ada yang memperkirakan bahwa nantinya konsumsi akan melebihi produksi pangan. Padahal makanan yang kamu buang sia-sia itu bisa saja harusnya didistribusikan di tempat lain yang benar-benar kekurangan pasokan makanan. Kalau ada yang menyanggah “ini uang gue kok, lu yang sewot”, iya bener itu uang kamu, tapi kamu juga harus tau bahwa makanan yang kamu buang itu sumberdaya kita bersama yang terbatas bung! 4. Uang yang Sia-Sia Bayangin aja kalau andai aja tiap biji beras itu harganya 1 rupiah dan selama sebulan kamu udah buang-buang 50 ribu biji beras, kan lumayan juga vroh. Gitu-gitu itu duit juga yang kamu atau bapakmu cari susah payah. Kecuali kalo koruptor sih, nyari duitnya gampang, pasti duit segitu kaga ada apa-apanya 😛 . 5. Nambah-Nambahin Sampah Kalian tau sendiri kan kalau lahan buat buang alias TPA itu makin lama makin dikit. Lahan di dunia ini kaga bisa nambah lagi, kecuali kalau kamu mau tambah tanah kaplingan di mars. Semakin banyak sisa makanan yang terbuang otomatis jumlah sampah pasti meningkat. Jumlah sampah meningkat, otomatis lebarin lahan TPA yang udah sesak itu. 6. Salah Satu Anugrah Dan terakhir kamu harus menyadari bahwa adanya bahan makanan ini merupakan salah satu anugrah terindah dari Yang Maha Kuasa. Kita tidak boleh menyia-nyiakan apa yang telah diberikanNya kepada kita. Manfaatkan baik-baik sumberdaya yang ada sebagai rasa syukur atas anugrah yang ada. Akhir Kata Itulah beberapa alasan kenapa kamu tidak boleh menyisakan makanan yang kamu makan. Syukuri yang ada dan tetaplah sederhana. Salam Edan!